PART 1 : Persalinan Anak Pertama, Menyambut Dua Garis Merah

Halo pembaca setia blog ini. Hehe
Assalamu'alaikum.

Sesuai judulnya di atas, kali ini saya mau cerita tentang pengalaman pertama kali dalam seumur hidup saya melahirkan seorang manusia mungil yang sudah bersama saya selama 40 minggu 3 hari. Iya, proses melahirkannya memang tanpa dokumentasi, untuk itu saya mau cerita disini biar jadi memori saja bahwa perjuangan menjadi seorang ibu itu nyata adanya. Hmm boro-boro dokumentasi mengambil gambar untuk sekadar buat kenang-kenangan, pegang hp untuk balas chat saja rasanya tak mampu waktu itu. Yaudah kalau mau cerita lengkapnya, stay on page ya!

Garis Dua dalam 4 Bulan Pernikahan

Rasa-rasanya masih belum percaya bahwa Allah telah meniupkan malaikat kecil dalam tubuh saya secepat ini. Berawal dari setetes darah yang bakal berubah menjadi seorang manusia, bertumbuh dan berkembang dengan sempurna di dalam perut saya. Sebelum cerita proses persalinan, saya mau cerita euphoria awal mula kehamilan dulu ya. Biar lebih realistis dan dramatis gitu deh. Jadi pada hari Kamis tanggal 08 Oktober 2020, waktu itu saya sudah telat haid kira-kira 5 atau 6 harian. Suami yang tau itu langsung menyarankan saya untuk beli testpack di apotek terdekat. Saya bilang "nanti saja ya pak, pulang kerja, belum berani ngecek". Sepulang kerja kita mampir ke apotek arah rumah, saya dengan nekatnya dan malu-malu meong bilang ke mbak-mbak apotek buat beli alat tes kehamilan. Sudah siap uang 30 ribu di saku seragam kerja, siapa tau kurang saya minta uang tambahan ke suami, eh ternyata harga testpack cuman 5 ribuan euy. Iya waktu itu beli yang murah-murah saja, toh kalau memang hamil kan pasti tandanya sama. Yaudah beli 2 aja buat memastikan dan biar lebih yakin kalau-kalau memang garis dua yang muncul.

Malam itu juga, setelah beberes pulang kerja, saya iseng untuk ngecek, sambil deg-degan suami bilang "mbak, nanti kalau hamil beneran gimana?". Heran sama suami nih, ya kalau hamil malah gapapa kan ya kita ini memang suami istri. Yap, ternyata memang benar garis merah 2 itu muncul samar-samar. Alhamdulillah. Ohiya, menurut yang tertulis di bungkus testpacknya waktu yang optimal buat ngecek itu di pagi hari setelah bangun tidur, entah saya beneran baca di bungkusnya apa di google ya. Lupa saya. Karena masih belum yakin, mumpung masih ada satu lagi nih testpacknya, saya pakai buat ngecek besok bangun pagi setelah sholat Subuh. Dan kali ini jelas sekali 2 garis merah. Karena masih belum berani info ke siapa-siapa, saya hanya kirim gambar foto testpack ke mama, dan minta untuk booking jadwal bidan di sekitar rumah di hari Minggunya. Sesuai hasil testpack, tanggal 10 Oktober 2020 bidan membenarkan berita kehamilan ini dan memberikan sedikit edukasi medis di awal kehamilan. Berita bahagia ini tidak semerta-merta langsung saya share ke semua orang, saya hanya info ke keluarga dekat dan salah satu teman yang pertama kali tahu tentang kehamilan saya adalah Ambo (hehe hallo onty amboy sapa tau baca nih). Alhamdulillah wasyukurillah, Allah mendengar doa saya untuk segera mendapat momongan di tahun pertama pernikahan. Secepat itu. MasyaAllah.
Testpack pertama dan kedua. Hasil jelas 2 garis merah.
Ambo, orang yang pertama kali dapat kabar bahagia, selain keluarga.

Trimester Pertama, Penyesuaian Diri dengan Perubahan

Pada minggu awal kehamilan ini saya merasa tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi dalam hidup saya, aktivitas masih intens lancar dan fisik pun tidak banyak berubah. Padahal waktu itu pekerjaan mengharuskan saya untuk terjun di lapangan panas-panasan, bergulat dengan mesin-mesin industri dan fisik saya hanya sekedar berubah menjadi lebih berisi, padahal secara berat badan masih sama saja loh.

Eh jangan senang dulu gi, masih ada 3 bulan lamanya untuk melewati Trimester Pertama selama kehamilan ini. Haha Benar saja guys, semakin hari perut saya jadi lebih menggembung. Iya, perutnya doang guys. Waktu itu literally perutnya saja yang berubah. Sampai-sampai di komen sama bidan kalau badan saya ini masuk kategori underweight, jadi saya dikasih PR untuk menaikkan BB di pertemuan bulan depan. Sejak saat itu, angka BB pas-pasan menjadi tamparan buat saya supaya giat makan dan ngemil demi perkembangan janin yang sempurna. Meskipun waktu itu saya mendapati morning sickness tahap labil. Kok gitu? Ya memang, saya merasakan mual dan muntah selayaknya orang hamil, tapi masih wajar kok. Pemicunya mungkin bau wangi parfum, detergen, atau pewangi laundry, sewaktu sikat gigi dan kalau saya terlalu banyak makan, hmm auto ambyar. Sebulan, dua bulan, sampai 3 bulan saya lewati dengan morning sickness labil, karena tubuh menyesuaikan diri dengan perubahan hormon. Beruntungnya saya masih doyan makan, kalau kata orang dulu sebutannya "ngebo", katanya gitu itu bawaan bayi. Entahlah Wallahualam.

Pada bulan ketiga hampir memasuki trimester kedua, perut saya sudah keliatan buncit, lingkar lengan sudah berubah lebih besar, dan bidan menyarankan untuk USG supaya bisa melihat perkembangan janin dan kantong rahim. Waktu itu tepatnya kehamilan 12 weeks saya pilih USG dengan dokter Hendra di Klinik dekat rumah, jadwalnya setiap Rabu malam dan Minggu pagi. Saya ambil jadwal di Minggu paginya. Ohya, saya sengaja tidak pakai fasilitas BPJS kesehatan untuk USG di setiap bulannya, karena memang gak mau ribet aja sih, BPJS kan cuma mengcover 1x USG di setiap trimester sedangkan saya dan suami memilih untuk ngecek kehamilan sekali setiap bulan. 

Pertama kali USG ini saya diantar sama mama karena suami tugas di luar kota. Kami menunggu dengan perasaan deg-degan dan was-was, karena ini kehamilan pertama dan calon cucu pertama. Setelah masuk ke ruang USG, saya lihat di layar calon jabang bayi mungil seukuran 3cm dan mendengar detak jantungnya untuk pertama kali. Alhamdulillah, dokter sebutkan perkembangan janinnya normal dan sehat. MasyaAllah Tabarakallah. Dan ini hasil USG pertama kali guys.
Sudah berbentuk bayi mungil berukuran 3.42 cm
Perubahan-perubahan di awal kehamilan ini pastinya bukan cuma saya saja yang merasakan, suami saya pun juga ikut berubah. Untungnya suami tetap siaga, dia yang selalu buatkan susu hamil dan menyiapkan sarapan pagi supaya dede bayi di dalam perut selalu ternutrisi. Huhu maaf ya pak, istrimu ini sungguh merepotkan sekali. Bukan hanya pekerjaan-pekerjaan ringan begitu saja loh, suami ekstra hati-hati sampai "benar-benar" mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Gak kebayang gimana perubahan tenaga ekstra dan persiapan psikisnya demi menyambut buah hati. Special thanks for my lovely "bapak". Hehe

Sepertinya cerita ini bakal panjang sekali ya kawans, jadi bakal saya jadikan beberapa part saja, semoga kalian tidak bosan dan tetap penasaran. Hayuk lanjut ke Part 2 yuk!

To Be Continued ...